Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 15 Juni 2010

Realita Di Balik Pria-Pemilih

Ada sebuah sesi yang selalu saya, Lex dan Kei tunggu-tunggu setiap kali memulai workshop, yakni Tell Your Stories.

Para peserta akan menceritakan latar belakang, motivasi mengikuti HSEW, serta kisah-kisah sedih dari kehidupan romance mereka.

Kenapa sesi ini sangat kami sukai?

Karena sesi selalu membawa saya, Kei, dan Lex kembali melayang ke masa lalu, saat kami masih melakukan apa yang mereka lakukan serta mendapatkan hasil yang sama.

Patah Hati.

Kesedihan.

Menangis.

Dada terkoyak.

Dan berbagai sindrom pilu lainnya.

Jadi ketika salah seorang peserta HSEW XV kemarin mengaku, "Iya nih, gue nungguin satu wanita yang sama selama 9 tahun," jantung saya seketika kehilangan irama normalnya.

DEG!!!

Saya nyaris melompat dari kursi saat mendengarnya, berbarengan dengan para crew yang menggeleng-geleng kepala dengan takjub.

Kemudian saat saya, Kei, dan Lex mulai mempreteli setiap paragdima mereka dan alasan mengapa mereka terus gagal dalam romance, peserta mengaku ‘digantung’ oleh wanita selama bertahun-tahun di atas itu mengeluarkan celetukan, "Eh, temen wanita gue banyak kok, tapi gue emang tipe pemilih aja sih, jadinya susah untuk dapetin yang pas."

Pada detik itu juga saya ingin menghajarnya dengan asbak di atas meja.

Tapi berhubung biaya pelatihan tidak termasuk premi asuransi jiwa, maka saya mengurungkan niat tersebut.

Jadi yang bisa saya lakukan hanya berkata, "BULLSHIT!!! Gak ada pria yang gak dapet wanita karena dia pemilih. Elo gak dapet wanita ya karena emang lo ada melakukan kesalahan, bukan karena elo tipe pria pemilih! Justru karena elo emang gak punya pilihan dan tidak mampu menciptakan pilihan makanya elo jadi nunggu satu wanita selama 9 tahun!" sambil membayangkan menghajarnya bolak-balik dengan mesin peluncur rudal antar-benua.

Kasar? Kejam? Terlalu vulgar dalam bertata-bahasa?

That's what we do in every workshop.

Kami menghajar peserta dengan keras karena mereka telah mengeluarkan uang untuk dihajar sekeras-kerasnya untuk dapat bangkit dan sadar dari tidur nyenyaknya.

Guys, salah satu proses menjadi Glossy adalah mengenal diri sendiri dan membuang ilusi-ilusi bodoh di dalam diri kita.

Salah satunya adalah ilusi alasan bahwa Anda adalah seorang ‘pria pemilih.’

Saya teringat beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di SMA, saya sering kali berkata seperti itu, "Ah gue emang tipe pemilih sih," "Gue milih-milih wanita, man, musti liat semuanya dulu baru gue bakalan PDKT," atau ratusan omong kosong lainnya seputar alasan serupa lainnya mengapa saya belum pacaran atau terlihat dekat dengan wanita manapun.

‘Pria pemilih’ menjadi realita palsu yang selalu saya gunakan dahulu. Mungkin Anda termasuk pria yang menggunakannya juga dalam kehidupan Anda sehari-hari sekarang ini. Saat itu, realita ‘pria pemilih’ begitu kental melekat dengan diri saya, bahkan saya anggap sebuah kebenaran yang absolut.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru mulai menyadari kekonyolan tindakan itu.

Alasan ‘pria pemilih’ yang sering saya dan Anda pakai dalam konteks tersebut adalah sebuah defense mechanism yang berguna untuk sebagian atau malah seluruh alasan berikut ini:
• mencegah saya terlihat atau dinilai tidak laku oleh teman-teman,
• menutupi bahwa saya juga sebenarnya tidak tahu bagaimana cara mendekati lawan jenis,
• memberikan asumsi bahwa saya memiliki cita rasa tertentu dan setiap wanita harus melalui proses seleksi yang cukup ketat, bukannya seperti pria putus-asa yang siap menerima siapa saja yang datang ke arahnya

Anda keberatan?

Tidak masalah, tunggu saja beberapa tahun lagi, Anda pasti akan mengerti maksud saya.

Ketika saya menyadari hal-hal di atas, alasan dan realita bahwa saya adalah ‘pria pemilih’ menjadi sesuatu yang tolol bin menyedihkan.

Mari beranalogi bersama-sama.

Cerita A: Seorang pria masuk ke toko CD. Ia berjalan mengelilingi lorong musik Jazz, Pop, dan RnB. Setelah sibuk melihat sana dan sini, membaca track lagu, membandingkan sejumlah musisi, ia akhirnya membeli album terbaru Level 42.

Cerita B: Pria lainnya masuk ke toko yang sama. Ia langsung menuju lorong musik RnB. Setelah sibuk melihat sana sini mencari sebuah judul album, berputar untuk mengecek di sejumlah rak dan lorong yang berbeda, dan bertanya pada shop assistant, ia keluar tanpa menenteng apa-apa.

Cerita C: Pria ketiga masuk ke toko CD yang sama, berjalan di setiap lorong yang tersedia di sana, melirik kesana-kemari, lalu keluar tanpa membeli apa-apa. Temannya yang menunggu di luar bertanya, "Kok gak jadi beli? Kan banyak yang bagus-bagus?" Dia menjawab, "Ah, gue kalo beli CD tuh milih-milih. Tadi gak ada yang bagus sih," dan temannya mengangguk-angguk sambil berkata, "Oh gue juga sih, pemilih banget deh soal musik."

Melihat kasus di atas, pria A dan B kemungkinan besar memang sudah mempersiapkan diri dengan sejumlah kemampuan yang diperlukan, mis. persediaan finansial, pengetahuan tentang musik dan minat sejumlah genre, atau fokus pada sebuah album tertentu.

Sekalipun pria B dan C sama-sama tidak keluar menenteng tas belanjaan, namun ada perbedaan yang dapat dibedah. Mempertimbangkan sejumlah alasan, maka kita akan sampai pada kedua kemungkinan logis di bawah ini tentang pria C di atas:
• dia tidak membawa cukup uang, jadi supaya tidak malu dia tinggal mengaku dirinya tipe pemilih.
• dia tidak tahu musik mana yang bagus karena hidupnya hanya seputar online game, chatting, Friendster, dan sejenisnya. Apa yang dia tahu seputar musik hanya soundtrack Winning Eleven atau game lainnya serta ringtone handphone. Namun agar tidak malu, dia tinggal mengaku dirinya tipe pemilih.

Itulah sebabnya pria A dan B lebih tepat dan masuk akal bila di sebut jelas adalah tipe pria pemilih dalam pengertian yang sebenarnya!

Seorang pria layak menyebut dirinya ‘pria pemilih’ bila dia mampu mendapatkan pilihan yang diinginkan , atau setidaknya berada dalam realita bahwa dia memiliki sejumlah pilihan, atau sanggup menciptakan pilihan!

Anda bisa mengerti sekarang mengapa alasan ‘pria pemilih’ oleh pria B itu terdengar sangat menyedihkan?

Apakah Anda pernah melakukannya untuk konteks romance?

Mari kita kupas lebih dalam.

Hanya ketika Anda memiliki Power to Bargain atau Power to Buy, Anda boleh memakai paradigma dan realita ‘pria pemilih’ karena hal tersebut akan memungkinkan Anda untuk memilih dan memutuskan ‘produk’ terbaik yang Anda inginkan.

Ketika Anda tidak memiliki kemampuan di atas, Anda hanya berlagak saja memiliki pilihan dan menjadi seorang pemilih dalam petualangan romantiAnda. Pada kenyataannya, bukan saja Anda tidak mampu memilih sebuah ‘produk’ yang Anda inginkan, bahkan Anda sendiri kemungkinan besar belum memiliki pilihan apapun.

Iluasi realita ‘pria pemilih’ yang Anda pakai juga memiliki dampak lainnya. Misalnya saat Anda gagal mendekati dan mendapatkan wanita yang diinginkan , Anda akan mengumandangkan kembali pada alasan, "Ah, santai aja, toh wanita itu emang bukan tipe gue." Defense mechanism yang muncul untuk menyelamatkan ego Anda tersebut akan menghalangi untuk belajar kesalahan atau kekurangan apa yang perlu Anda perbaiki untuk memastikan Anda tidak berakhir dengan hasil yang sama lain kali.

Anda memilih untuk menipu diri, daripada menelan rasa malu untuk mengakui bahwa diri Anda tidak memiliki kekuatan untuk mendapatkan wanita yang Anda mau, rasa malu untuk mengakui kalau Anda sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang bagaimana caranya mendapatkan wanita yang diinginkan.

Kalau Anda sekarang ini baru saja ditolak oleh wanita yang Anda suka, atau Anda sudah belasan tahun menjomblo dan usaha Anda mendekati wanita selalu gagal, dan sering memakai alasan, "Gue tipe pemilih sih man. Si Jennifer itu bukan tipe gue banget. Malesin deh, makanya gue mundur aja."

Tanyakan pada diri Anda sendiri sekarang:

Apa Anda memang benar-benar menyadari dan merasa memiliki kemampuan untuk memilih wanita manapun yang Anda inginkan untuk dijadikan partner?

Atau pikiran dan perasaan itu hanya muncul agar Anda terhindar dari rasa malu bahwa Anda terus-menerus jomblo, tidak mengerti banyak soal cara mendekati wanita, dan selalu berakhir pada penolakan?

Silakan jawab pada hati nurani Anda sendiri.

Setelah itu, mulai detik ini biasakan untuk berseru, "Bullshit!" kepada setiap teman Anda yang menyatakan bahwa dirinya adalah ‘cowo pemilih,’ sementara kenyataannya Anda bisa melihat sendiri itu adalah alasan superfisial yang lebih nyaring daripada tong kosong manapun.

Jangan lupa untuk berseru, "Bullshit!" pada diri Anda sendiri setiap kali Anda mendapati mulut dan kepala Anda ingin memakai realita bodoh itu.

‘Cowo pemilih’ adalah salah satu ilusi berbahaya yang menjadi masalah utama banyak pria di luar sana.

Ilusi tersebut mencegah Anda untuk melihat ke dalam diri sendiri.

Ilusi tersebut mencegah Anda untuk mengenali lebih kekurangan yang Anda miliki, terlebih lagi mengakuinya.

Ilusi tersebut membuat Anda berpikir kalau Anda mampu membuat pilihan sementara kenyataannya tidak pernah ada pilihan sama sekali.

Ilusi tersebut menghambat diri Anda untuk memperbaiki diri, terus tenggelam dalam pusaran yang gelap, sampai akhirnya ketika Anda sadar dan ingin mengubah keadaan, semuanya sudah terlambat.

Guys, wake up and smell the coffee.

Coba jadi jujur dengan hati Anda, dan tidak perlu malu atau terkejut bila menemukan ternyata Anda suka berlindung dibalik alasan ‘pria pemilih.’

Be proud that finally you are strong enough to admit it, and realize that you're not alone.

I've been there. Lex and Kei have been there also.

Together, we can walk you to the glossy reality.

Are you coming?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar